- See more at: http://blog.ahmadrifai.net/2012/07/cara-buat-efek-bunga-berjatuhan-di.html#sthash.WofJzuo2.dpuf

الخميس، 28 فبراير، 2013

Metode Pembelajaran SKI


1.      Pengertian metode pembelajaran
Metode adalah cara mendapatkan sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2.      Metode-metode pembelajaran sejarah kebudayaan islam
Berbagai ragam metode bisa digunakan untuk pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan model CTLdengan syarat memenuhi prinsip-prinsip REACT  (Relating (menghubungkan), Experiencing (mengalami), Applying (menerapkan), Colaborating (bekerja-sama), dan Transfering (menyampaikan).
Tidak ada metode pembelajaran yang terbaik untuk satu mata pelajaran tertentu. Metode yang baik ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kesesuaian metode itu dengan karakteristik peserta didik dan struktur dan jenis materi. Ukurannya baik tidaknya metode adalah terletak pada seberapa efektif metode itu dipakai untuk menghantarkan peserta didik menguasai kompetensi yang ditentukan.

a.      Metode untuk penguasaan ranah kognitif
Di bawah ini adalah beberapa metode yang bisa digunakan untuk mengajarkan struktur dan jenis materi-materi kognitif:
1)   Examples non examples (contoh berupa gambar)
Banyak dari fakta baik dalam bentuk barang, benda, dokumen, dan gambar yang tidak lagi dapat ditemui. Oleh karena itu, untuk membuat peristiwa-peristiwa bersejarah tetap terpelihara tidak hanya dalam bentuk laporan verbal, perlu juga kiranya dihadirkan gambar yang bisa menghantarkan pikiran seseorang untuk memasuki masa lampau tersebut. Meskipun gambar itu tidak begitu representatif, paling tidak ada bentuk, jenis, atau kualitas-kualitas tertentu yang mempunyai unsur kesamaan.
Gambar berfungsi sebagai alat bantu untuk menghadirkan fakta atau konsep sejarah yang abstrak menjadi konkret. Contoh konkrit berupa gambar akan menjadi gantungan atau jangkar ingatan peserta didik untuk menghafal beberapa kata, data, dan faka untuk membangun kompetensi yang diharapkan. Penguasaan peserta didik atas kompetensi  kognitif berupa penguasaan atas informasi sangat membantunya untuk mengembangkan sikap yang baik dan keteramplan motorik yang tinggi.

2)   Timeline (Garis waktu)
Metode ini tergolong tepat untuk pembelajaran sejarah karena di dalamnya termuat kronologi terjadinya peristiwa. Dengan metode ini, peserta didik bisa melihat urutan kejadian dan akhirnya juga bisa menyimpulkan hukum-hukum seperti sebab-akibat dan bahkan bisa meramalkan apa yang akan terjadi dengan bantuan penguasaan timeline beserta rentetan peristiwanya.

3)   Concept Map (Peta Konsep)
Peta konsep adalah cara  yang praktis untuk mendeskripsikan gagasan yang ada dalam benak. Nilai praktisnya terletak pada kelenturan dan kemudahan pembuatannya. Guru bisa memanfaatkan peta konsep untuk dijadikan sebagai metode penyampaian materi sejarah. Penyampaian materi dengan peta konsep akan memudahkan siswa untuk mengikuti dan memahami alur sejarah dan memahami secara keseluruhan.
Dengan peta konsep, peserta didik tidak akan mengingat dan menghafal materi sejarah secara verbatim, kata per kata. Mereka punya kesempatan untuk membangun kata-kata mereka sendiri untuk menjelaskan hubungan satu konsep dengan lainnya.

4)Storyboard telling  (papan cerita)
             Papan cerita adalah salah satu metode yang tepat untuk menyampaikan materi sejarah secara kronologis (berurutan) karena kronologis adalah termasuk karakteristik sejarah. Metode ini adalah penggabungan antara peta konsep, timeline dan narasi (bercerita) yang fungsinya adalah untuk membantu pemaparan pengetahuan sejarah.

5)Word Square (Kotak kata)
            Word square merupakan permainan yang akhir-akhir ini banyak digemari orang seperti halnya Sudoku. Bahkan banyak siswa yang asyik main sudoku atau word square saat guru penuh semangat menyampaikan materi. Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau memanfaatkan game atau permainan yang bisa mengajak otak untuk terus bekerja ini sebagai metode pembelajaran.

6)Data terfokus
            Metode ini menggunakan daftar yang memfokuskan perhatian peserta didik pada butir-butir penting yang dipelajari dan membantu guru menilai tingkat ketrampilan dan penguasaan mereka menggambarkan butir-butir itu.

7) Scramble (Kata acak)
            Scramble merupakan permainan yang digemari oleh semua orang tidak hanya menyususn kata atau frase. Metode ini bisa mendorong peserta didik untuk berpikir secara aktif dengan materi (kata teracak) yang ada. Peserta didik dianjurkan untuk tidak menjawab pertanyaan secara langsung tapi dengan menyebut angka dari jawaban yang kata-katanya teracak.

8)Make a Match (Mencari Pasangan)
            Metode ini bisa dipakai untuk meninjau ulang proses pembelajaran yang berlangsung. Guru bisa melakukannya bareng bersama peserta didik. Artinya, mereka disertakan sebagai subyek untuk me-review atau meninjau ulang kegiatan.

9) Learning Starts With a Question
            Metode ini cocok untuk memulai pembelajaran topik baru di mana jenis dan struktur materi pelajaran tertentu yang kadang sudah dibahas pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Supaya tidak terjadi pengulangan pembahasan topik, perlu ditanyakan sesuai tingkat pemahaman dan kebutuhan peserta didik.

b.      Metode Pembelajaran Untuk Ranah Psikomotorik dan Afektif
1)      Information Search (Pencarian informasi)
Metode ini bisa dipakai dalam strategi pembelajaran inquiry, Problem based learning, dan collaborative learning. Pembelajaran diawali dengan pertanyaan yang menggugah siswa untuk aktif mencari sendiri jawaban dengan cara bekerja sama dengan siswa lainnya. Pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh guru lebih baik menyangkit informasi- informasi yang berhubungan dengan masalah sikap sehingga bisa menimbulkan diskusi kelompok yang kondusif.

2)   Group Investigation ( kelompok investigasi)
Metode ini hampir sama dengan information Search. Bedanya pada jenis penugasannya. Mualai dari awal mengerjaan tugas dalam Group investigation dilakukan dalam kelompok. Kerja sama yang solid atau kuat sangat dibutuhkan dalam metode ini.

3)   Role Playing ( Bermain Peran)
Bermain peran bisa berbentuk memerankan dialog tokoh- tokoh dalam sejarah atau memerankan diri atau kelompok sebagai ahli sejarah. Bentuk yang pertama bisa mengajak peserta didik untuk menjiwai karakter atau tokoh sejarah. Dengan cara ini, siswa merasakan dirinya sebagai actor sejarah dan akan sangat berkesan bagi mereka. Dialog- dialog yang dipakai diusahakan untuk sederhana dengan tanpa meninggalkan gagasan- gagasan utamanya.

4)   Problem based- Introduction (Pembelajaran Berdasarkan Masalah)
Pembelajaran akan efektif kalau dimulai dengan masalah mendesak yang harus segera dipecahkan, apalagi kalau masalah itu terkait erat dengan pribadi peserta didik. Oleh karena itu, sebaiknya materi pelajaran diawali dengan penyajian masalah dan member kesempatan kepada peserta didik ikut merasakan masalah dan berusaha untuk menyelesaikannya.

5)  Active Knowledge  Sharing (Aktif berbagai Pengetahuan)
Ini adalah satu yang dapat membawa peserta didik untuk siap belajar dengan efektif dan melibatkan unsure afektif. Metode ini dapat digunakan untuk melihat tingkat kemampuan siswa disamping untuk membentuk kerja sama kelompok.

6)  Students Facililitator and Experlaning (Jadi Fasilitator dan menjeaskan)
Metode ini menerapkan pola belajar dengan teori belajar sosial, yaitu anak belajar melalui modeling, meniru atau mengikuti orang yang dianggap pantas untuk dijadikan panutan. Guru adalah panutan yang baik bagi siswa diruang kelas. Disamping itu, guru juga member kesempatan peserta didik untuk mendemonstrasikan pemahaman dan penguasaannya atas materi yang disampekan.

7)  Intant Assessment
Ini adalah metode yang menyenangkan dan tidak menakutkan bagi siswa. Guru bisa mengetahui dengan singkat sikap peserta didik terhadap materi dan pembelajaran sejarah kebudayaan islam.

8)  Billboard Rangking ( Urutan nilai Luhur)
Metode ini sangat tepat digunakan untuk mendorong refleksi dan diskusi mengenai nilai- nilai, gagasan dan pilihan yang ada dalam sejarah kebudayaan islam. Materi- materi yang mengajarkan aspek afektif bisa disampaikan dengan metode ini. Meskipun demikian, metode ini tetap memperhatikan aspek- aspek kognitif.

9)  Asswssment Search ( Menilai Kelas)
Metode ini cukup menarik untuk menilai kelas dalam waktu yang cepat dan sekaligus melibatkan siswa sejak awal pertemuan untuk saling mengenal dan bekerja sama. Metode ini bisa dipakai untuk kelas enam Madrasah Ibtidayah karena para peserta didiknya sudah bisa mengembang berbagai ragam pertanyaan yang berbeda.

10)  What? So what? (Apa? Untuk Apa? Lantas Apa?
Nilai- nilai dalm pembelajaran bisa ditingkatkan dengan cara meminta peserta didik merefleksikan atau memikirkan ulang apa yang mereka baru pelajari dan menggali kemungkinan penerapannya. Saat refleksi (berpikir ulang) ini sering disebut proses pemantapan nilai atau juga permanenan hasil belajar.

11)  Seering How it is (Mengetahui bagaimana Rasanya)
Seringkali satu topik dan kompetensi pembelajaran mendorong pemahaman, rasa simpati,dan empati terhadap apa yang dialami oleh orang lain dlam situasi- situasi tertentu. Salah satu cara yang tepat untuk mencapai tujuan itu adalah menciptakan pembelajaran afektif yang mendorong peserta didik mengetahui dan mengalami situasi yang tidak atau jarang terjadi pada dirinya.

12)  Sosiodrama
Drama atau sandiwara dilakukan oleh sekelompok orang, untuk memainkan suatu cerita yang telah disusun naskah ceritanya dan dipelajari sebelum dimainkan. Adapun cara pe;akunya harus memahami lebih dahulubtentang peranan masing-masing yang akan dibawakannya.
Metode sosiodrama adalah juga semacam drama atau sandiwara,  akan tetapi tidak disiapkan naskahnya lebih dahulu. Kesan dari drama yang dimainkannya sendiri akan besar pengaruhnya kepada perkembangan jiwa anak didik baik yang langsung berperan sandiwara, maupun yang menyaksikan. Oleh karena itu metode sosiodrama.


 DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, 2009. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta pusat: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam. 1981. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN Pusat 

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق